Apapun membuat kita bosan

Kalau main game mungkin kata orang menyenangkan. Tetapi kenyataanya tidak seperti itu karena kita juga bosanan. Sehari dua hari bahkan tiga hari bahkan sebulan kita bosanan.
Hal yang membuat bosan adalah statis mungkin. Kita akan mencoba game yang lain untuk mendapatkan game yang lain.
Hal ini juga menginspirasi kan pada menulis. Menulis juga bisa menjadi bosan pada saat kita sudah merasa menulis banyak tapi sepeti tidak akhirnya. Kita tidak tahu kapan hal itu berakhir.
Padahal kalau sebuah cerita harus dibatasi akhir. pasti cerita kita sudah mempunyai akhir tetapi kita tidak bisa menentukan akhirnya sampai mana.
Kita harus menentukan karena kadang say menggunakan angka misalnya seribu adalah satu bagian dari novel sehingga saya harus menulis lama sekali. Saya rasa ini setelah saya berhasil mengantisipasi stuck. Saya berhasil mengantisipasi stuck dengan cara mengerjakan pekerjaan yang lain saya hanya membatasi saja. Kalau saya stuck selama lima menit saja saya akan mencari pekerjaan lain. Bisa jadi pekerjaan itu menulis juga karena dengan demikian saya akan memenuhi target. Mungkin target saya seharusnya dirubah bukan hanya masalah angka saja atau jumlah kata sesuai dengan tuntutan dari sebuah novel melainkan juga sampai cerita tersebut utuh dan menceritakan seluruhnya jika demikian maka saya akan ke bagian yang lain.
Ini juga untuk menjaga ide. Terkadang ide itu mahal sekali kalau kita biarkan maka akan membuat kita sendiri akan menyelesaikan banyak pekerjaan dan saya tidak akan lagi mengeluh kalau saya tidak punya waktu.

Iklan

Film mematikan kreativitas menulis?

Kalau penulis horror , Stephen King pernyataan bicara kalau film memang mematikan kreativitas dari seorang penulis. Mungkin benar saja kalau orang tersebut terus menonton TV dan film dan mencoba mencari ide dari sana tapi tidak mengerjakan penulisan. Ia tidak memulai dengan mencoret di kertas selembar hanya mencoba coret-coretan di dalam pikiran saja. Haha tentu hal ini sama saja dengan percuma sebab di tulisan yang lalu masih di blog ini saya juga bilang kalau tilisanniit yang ada di pikiran belum akan bisa dibeli orang karena masih dalam pikiran kita.
Kita belum menulis bab pertama dari ide buku kita bahkan satu kalimat kita yang mau kita buat. Hal itu membuat saya juga menjadi malas untuk menonton Karena bagi saya ceritanya itu-itu saja. Memang terkadang ada film yang menurut saya bagus tapi untuk sedikit dari film yang kebanyakan hasilnya kacangan.
Ada yang mendapat inspirasi dari film. Mungkin mereka membuat film plesetan yang justru menjadi laku. Bisa jadi membuat novel plesetan yang kadang lebih laku dari film aslinya.
Tentu saja hal seperti ini tidak asli sesuai dengan pikiran si penulis karena ia mampu mix. Penulis ini juga tidak original karenanya yah banyaklah penulis yang membuat film menjadi bosan karena sebenarnya semuanya bisa ditebak. Hanya sedikit saja yang tidak bisa ditebak karena sulit sekali untuk membuat alur tersebut.kita melihat beberapa film yang nama tokoh, tempat setting, dan lainnya beda akan tetapi ceritanya itu-itu saja.
Jadi menjalar kemana-mana. Tapi setidaknya kita bisa mendapatkan ide cerita. Yang tidak akalh penting adalah mencoba. Terkadang kalau kita mencoba kita merasa sama saja dan merasa kuno dengan yang ada di film tersebut. Akhirnya kita berhenti.
Ini salahnya kalau kita berhenti karena kalau kita berhenti apa saja akan menjadi lenyap karena kita sendiri yang telah membuat malas.
Terkadang kita juga membuat malas sama sehingga kita diam saja dan kita tidak menyelesaikan apapun.

Mengulang pelajaran

Kadang saya merasa paling efisien dengan tidak mengulang pelajaran lagi. Memang ada yang tidak perlu diulang tetapi terkadang ada yang harus diulang. Seperti halnya untuk menyetir mobil kita tidak perlu mengulang pelajarannya akan tetapi kita perlu praktek di lapangan.
Tetapi untuk suatu ilmu agama mungkin harus diulang-ulang. Kita jangan jenuh dengan ilmu yang seperti itu karena kita akan memperoleh manfaat. Seperti kemarin padahal saya sudah jenuh membaca di sosial media karena materinya itu-itu saja yang aku kira akan menghabiskan waktu. Kata seorang ustadz memang sosial media adalah yang bisa menghabiskan waktu karena kita terpaut atau seperti kena jangkar oleh sosial media. Sosial media memang membuat kita malah malas untuk mejgerjakan tugas kita.
Adalah kisah seorang buruh yang masih berpuasa ketika ia bekerja sebagai pekerja bangunanm. Bukan puasa wajib tetapi untuk puasa Senin dan Kamis. Ini tentu memerlukan perjuangan yang sangat besar sekali. Hanya untuk menjalankan yang Sunnah saja ia mau bayangkan pekerja bangunan yang puasa wajib saja tidak dipedulikan.
Kita mungkin merasa diri kita paling Sholeh padahal masih banyak yang lebih Sholeh. Kalaupun ibadah kita banyak namun kita tidak diniatkan dengan yang ikhlas maka pahalanya tidak ada sama sekali. Tetapi bagi yang sedikit sekali bisa jadi ia mempunyai pahala yang besar sekali.
Sekali lagi kita memang perlu untuk mengulang-ulang pelajaran. Inilah buktinya kita membaca Al Qur’an secara berulang-ulang karena memang kita butuh nasehat untuk itu. Jangan kita sombong dengan yang ada. Kita tidak akan pernah tahu nasib kita.
Manusia memang lupa dengan diri dan kalau tidak diingatkan maka akan lupa terus sampai lupa diri.
Kalau ada yang lebih baik dari kita bukankah kita harus menyontohnya? Jangan yang buruk kita contoh saja.

Semangat pada kedua

Saya membaca buku Ustadz Felix Siauw mengenai kebiasaan atau habit. Kita baru bisa habit atau kebiasaan kita setelah kita melakukan setidaknya 6 bulan seringkali kita semangat di awal tetapi setelah ldua tiga hati kita tidak bersemangat hal ini karena kebiasaan kita yang belum terbentuk. Kebiasaan kita hanya malas saja.
Ya kebiasaan kita terbentuk setelah kita semua akan bekerja keras. Kita sendiri membuat suatu kebiasaan tersebut dengan bekerja.
Seperti halnya menulis juga. Kita akan bisa menyelesaikan tulisan jika kita sudah menuliskan akhirnya. Ketika akhiran cerita kalau ada di kepala maka itu belum terjadi akhir dari cerita. Yang ada hanya khayalan kita yang melambung hingga ke atas sana tanpa ada hasil sama sekali.
Pernah terlintas bagiku kalau semua bisa menyelesaikan cerita betapa mudahnya semuanya. Orang bisa mendapatkan uang dengan mudah dari ide-ide yang ia miliki. Ia tidak bekerja namun hanya memberikan ide. Tentu ini tidak bisa seperti ini. Hal ini juga terjadi tapi jarang sekali.
Kita sebagai orang biasa harus bekerja keras dan kita tentukan sendiri cara kita untuk sukses.
Saya seperti yang saya lakukan sebelumnya. Kalau Kemarin saya begitu bersemangat namun kini tidak lagi. Saya rasa ini belum habit saya. Saya juga belum meyakini passion yang saya jalankan sehingga saya menjadi pengagum untuk itu. Maunya saya menggambarkan peta untuk mendapatkan jalan mengerjakan begitu banyak pekerjaan. Memang tanpa adanya peta ini sulit sekali. Bisa sampai? Ya, bisa sampai tetapi terkadang ada yang kurang. Ini karena kita tidak mencatat semuanya.
Saya membagi kegiatan anatra kegiatan yang wajib, sekunder dan iseng-iseng. Saya tidak tahu mana yang akan berhasil tetapi saya yakin akan ada hasil. Bukankah kerja saya masa lampau juga terbalaskan dengan penghasilan saat ini. Tidak mungkin kerja kita tidak terbayarkan . Pada saat ini mungkin saya belum merasakan manfaat dari hal ini akan tetapi kita akan mendapatkan suatu saat. Selama kita tidak berhenti bekerja.
Taktik lainya adalah berhenti pada saat stuck karena hal justru menjadikan saya menjadi sulit juga berkembang.

Semangat Sang Self Employee

Ketika kita meminta sesuatu maka kita dengan sepenuh hati mencoba untuk berusaha untuk mendapatkan hal itu. Apa yang terjadi adalah kita menjadi lesu ketika kita mendapatkan apa yang kita doakan. Kita seolah lupa bahwa kita sangat menginginkan hal itu.
Kita merasa bahwa apa yang diberikan sudah terlambat. Sehingga semangat kita akan menjadi lesu dengan hal itu. Ini justru yang akan menghancurkan kita untuk berusaha untuk berbuat baik.
Ada hal yang membuat kita menjadi pesimis untuk menjalankan kehidupan ini. Seolah kita tidak akan menyelesaikan apa yang kita sudah rencanakan. Apabila kita sudah demikian maka kita akan sulit lagi bersemangat. Ada orang yang mulai dari yang kecil walau mulai dari yang besar tidak pernah salah. Ia dengan tekun berani menelusuri dan meyakinkan bahwa ia akan menyelesaikan pekerjaan ini. Hingga akhirnya ia akan mendapatkan hasil yang kita inginkan.
Seorang yang pesimis akan merasa ia tidak akan menyelesaikan sehingga ia tidak pernah memulainya sama sekali sehingga ia menjadi termenung saja dan tidak bekerja sama sekali. ini menjadi penyakit bagi mereka yang bekerja self employeed. Mereka akhirnya hanya terdiam sendiri Masih mending mereka mengisi kegiatan dengan beberapa hal sehingga waktu yang terlewatkan tidak begitu saja.
Tetapi soal fokus memang tidak baik karena tidak ada yang terselesaikan. Kalau pekerjaan sudah baik maka seluruh pekerjaan akan terselesaikan dengan baik juga. Sebaliknya juga demikian.
Terkadang kita memang sudah pasrah saja karena kita sudah merasa yang penting kerja saja.
Niat untuk membagikan beberapa pekerjaan yang sulit sekali itu memang sudah ada. Tetapi saya menilai semuanya sudah kebanyakan karena penuh dengan beberapa hal. Saya sudah menyerah sedemikian dan menganggap saya tidak akan menyelesaikan pekerjaan. Ingin mengagrapa sesuatu namun khawatir tidak selesai juga. Inilah yang membuat saya maju dan mundur dengan hal ini. Saya yakinkan harus ada tekad yang kuat agar bisa untuk menyelesaikan pekerjaan yang sudah saya cita-citakan. Nantinya saya khawatir kalau terus menerus demikian maka akan menjadi preseden yang buruk yang tidak akan menyelesaikan pekerjaan.
Mungkinkah saya terlalu menggenggam banyak hal sehingga saya tidak bisa untuk mengerjakan sesuatu hal. Mau menulis diktat dan juga menulis modul dan yang tidak kalah penting lain adalah menulis penelitian. Ini yang sampai sekarang belum dimulai. Kata seorang doktor kalau kita tidak mulai maka itu tidak akan bisa menyelesaikan hal ini. Untuk itu mulailah namun mulainya dari kapan. Saya sendiri pun tidak akan tahu dengan hal itu.

Kedatangan mahasiswa survey

Mungkin inilah survey yang benar karena kedua mahasiswa yang terdiri dari mahasiswa dan mahasiswi menggunakan jaket almamater untuk mencari data sanitasi di perumahan kami.
Memang kedua mahasiswa tersebut tidak menggunakan kuesioner yang seharusnya dibawa. Saya kenalkan saya sendiri seorang dosen yang mengajar metode penelitian
Aku mengkritik dari mereka yang tidak menyediakan kuesioner.
Kuesioner sangat penting untuk memandu pertanyaan agar pertanyaan standar. Kalau kita ingin untuk menanyakan sesuatu namun kita tidak menyiapkan dari kuesioner maka sama saja dengan kita tidak mempunyai persiapan
Dengan adanya kuesioner kita tidak akan terpengaruh dengan segala sesuatu di luar tugas kita. Kalau kita banyak bertanya boleh saja namun kita utamakan tugas kita terlebih dahulu. Dengan kuesioner itu adalah sebuah panduan untuk ketika kita stuck dalam keadaan tertentu.
Terkadang kalau kita menghadapi orang pendiam juga kita menjadi stuck sehingga kita tidak bisa berbuat apa-apa dan kita menjadi diam dan tidak berhasil untuk mengumpulkan apapun. Ini tentu sesuai di luar yang kita inginkan.
Tetapi apapun begitu saya sangat senang telah membantu mahasiswa. Padahal mereka awalnya malu-malu saja ketika mereka mencoba untuk mencoba menanyakan.
Aku pikir aku juga harus mempunyai sebuah kuesioner hidup ini? Buat apa aku harus hidup dan aku harus menjawab pertanyaan sendiri. Mengenai ilmu yang saya miliki, apa saja yang bisa saya sumbangkan untuk ilmu tersebut. Aku kira aku harus menjawab itu sendiri. Banyak pekerjaan yang saya lakukan seperti halnya untuk membuat modul-modul perkualiaahn yang saya kira adalah lebih bermanfaat bagi orang daripada novel atau cerita pendek. Dari sini banyak yang akan mendapatkan ilmunya dan mengambil manfaat dari sini.
Memang asyik mengerjakan novel dari mengerjakan modul karena kita mengkhayal mencari tempat atau menjadi tokoh tetapi modul tidak. Modul hanya mempengaruhi sedikit orang namun ilmu kita akan berkembang. Aku juga sangat terpengaruh dengan seorang ulama yang menyedekahkan ilmunya. Ya pada saat materialisme sekarang ini yang menilai ilmu. Kini saatnya kita untuk menyedekahkan ilmu. Saya menjadi menyesal sekarang karena tidak menyedekahkan ilmu saya

Mau Usaha

Sulitnya mencaripekerjaan saaat ini sudah tidak dibantah lagi.Meski ada orang yang mudah saja mendapatkan pekerjaan namun tetapsaja aslinya pekerjaan sulit sekali. Kecuali orang asing yang katanya langsung mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya sangat besar sekali.
KIta tidak boleh berpangku tangan atau mengangkat tangan karena hal ini. Karena hal itu ama saja dengan menyerah dengan keadaan. Aku kira kita harus untuk melepaskan diri dari ancaman yang ini.
Dari dulu seluruh perguruan tinggi sudah menawarkan sebuah jalan alternatif untuk mencari pekerjaan yakni dengan mendirikan pekerjaan itu sendiri. Dengan mendirikan pekerjaan atau berbisnis maka kita akan mencari uang dan jumlahnya uang jauh lebih besar daripada yang bisa kita bayangkan . Kalau kita mendapatkan penghasilan dair kantor yang paling banter hanya UMR dan yang susahnya kita sangat sulit untuk mendapatkan UMR tersebut karena banyak yang bersaing untuk itu.
Kalau kita mau usaha maka ada kemungkinan namun ita harus mempunyai tekad yang kuat dan bahkan lebih kuat dari kita bekerja di suatu kantor karena kita bekerja juga harus bertekad dengan kuat karena kalau tidak si boss tidak akan membayar.

Ternak Madu Menyukai Lokasi Ternak Madu

Ada salah satu cita-cita saya yang belum saya jalanin adalah ternak madu. Bisnis ini sebabnya tidak membutuhkan modal yang besar selama kita mau. Hanya saja tidak mungkin kita beternak madu di kota Jakarta meski itu di pinggiran kota Jakarta karena makanan dari lebih berupa bunga sudah jarang. Kalau untuk satu sarang atau koloni mungkin saja bisa namun kalau sudah untuk usaha maka kita harus mempunyai makanan yang banyak untuk lebah.
Tempat yang baik dengan lebah tentu ada yang penuh dengan bunga. Sayangnya saya belum melihat mana literatur yang paling sesuai mengenai banyaknya bunga yang harus di tanam. Kalau untuk ternak sapi dulu kami belajar mengenai ukuran lahan yang diperlukan. Kalau ada kesesuaian lahan yang pas untuk ternak lebah.
Salah satunya yarat paling jauh lebah harus mempunyai sumber makan dengan jarak 750 meter sayangnya saya tidak tahu apa ukuran yang pas untuk tanaman bunga. Saya pikir kalau sedikit bunga juga lebahnya bisa kurus karena gak ada makanan . Untuk jarak mata air katanya 200-300 meter. Nah lebah ternyata butuh juga dengan air.
Terkadang kalau petani lebah juga menggembalakan lebah dengan mengangkat kotak ke satu tempat. Ini maksudnya juga untuk mendiversifikasi bunga yang membuat khasiat madu bertambah baik.
Rupanya tidak mudah juga usaha madu namun kita harus mau bekerja keras jika kita memang bercita-cita untuk beternak madu.

Menetapkan target dalam menulis

Saya kira sudah pernah saya menulis di jurnal ini kalau kita perlu untuk menetapkan target agar kita bisa untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Jangan kita menulis terus yang saya rasa akan membuat kita menjadi lelah untuk menulis tanpa arah yang jelas. Bisa jadi kita sudaha\ menulis ratusan ribu halaman namun kita belum menghasilkan karya yang nyata. Untuk itu kita harusnya membuat target dalam menulis.
Pernah saya mempunyai target menulis lima ribu kata dalam sehari. Ini sebenarnya tidak terlalu sulit namun tetap saja kita stagnan karena merasa tidak ada ide.
KIta seperti menembus tembok yang terbuat dari baja. Memang target mmebuat kita binggung karena kita harus mencapainya. Terkadang hal itu membuat kita mmebuat patah arang dan kita tidak mau untuk bekerja lagi. Terkadang target seolah berada besar di mata kita sehingga kita sudah malas untuk menggapainya juga. Kalau kita mau tenang mungkin kita bisa mengalahkan target kita.
Target-target ini justru menjadi hantu yang tidak membuat kita menjadi cekatan dalam menulis. Kita sudah menyerah saja.
Mungkin saja kita memerlukan ketenangan dalam hal ini untuk membuat sesuatu yang membuat kita menjadi tenang dalam mengerjakan. Kadang kita harus tetapkan dalam hati bahwa kita pasti bisa menyelesaikan hal ini. Ini bisa kita lakukan dengan demikian kita akan tetap tenang dalam mengerjakan tugas-tugas untuk menyelesaikan tulisan kita.
Tulisan itu seperti amal sholeh yang bisa kita bagikan pada orang lain. Kita akan bisa untuk menyebarkan ilmu pada orang lain dan pahalanya yang besar. Pahala dari ilmu-ilmu kita akan mengalir terus. Tentu saja ini atas kehendak dan izin Allah. Bukankah ketika saat kita memutuskan untuk membuat buku itu sendiri berarti kita sendiri telah memutuskan untuk menulis buku.
Saya rasa ini akan bermanfaat besar bagi kita dan balasannya jauh lebih besar dari harta dunia yang hanya sementara. Amal kita akan selalu datang ketika kita mati nantinya. Jika kita mau bekerja dengan ini maka kita akan mau membuat buku yang banyak.

Pekerjaan percuma

Terkadang kita sering benggong karena tidak ada suatu perencanaan paginya. Karenanya orang yang benggong tidak mempunyai tujuan hidup katanya. Untuk itu setiap hari orang harus membuat to do the list yakni yang berisi daftar untuk apa yang dikerjakan hari itu.
Sayapun pernah berbuat menulis to the list hanya saja dalam hati saja tidak saya tulis dalam kertas agenda. Aku pikir ini zaman millenial yang harus paperless atau menggunakan tanpa kertas. Terkadang saya mencatat di keep. Tetapi yang membuat malas adalah kita yang sudah menulis malah kita tidak melaksanakan. Memang terkadang kita bukannya sombong malah kerja melebihi target. Ini membuat kita malah merasa tidak perlu.
Memang to the list sangat penting. Ia bisa memaksa kita mengingat apa saja yang mesti kita kerjakan hari ini akan tetapi terkadang kita juga disibukkan dengan yang tidak berguna. Hal ini merupakan hukuman dari Allah. Terkadang kita banyak menghabiskan waktu di depan komputer. Bukan pekerjaan yang kita lakukan tetapi kita malah menguak social media . Kita mau kepooin orang lain. Kalau belajar dari social media itu is ok. Kita bisa mendapatkan banyak ilmu. Tetapi kebanyakan kita melihat foto pribadi yang sedang berlibur ke luar negeri. Kita ingin ke sana sekali namun tahu bahwa uang kita tidak ada.
Intinya kita memang jauh dari Allah bukan karena apa-apa. Ini membuat kita semakin berbuat sia-sia.
Bagaimana dengan to do the list. Ya, tetap saja to the list kita lakukan namun kita juga mendekatkan diri pada Allah . Toh, pada akhirnya kita memang harus dekat pada Allah karena ini tujuan hidup dari kita. Semua hal yang telah kita lakukan menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan . Setiap waktu kita yang berlalu akan menjadi pertanggungjawaban di akhirat kelak.