Menulis Ulang Kembali

Salah satu dari cara Leo Tolstoy untuk mengerjakan sebuah novel adalah dengan menulis ulang. Zaman dahulu jangan bayangkan menulis ulang sebuah novel denagn laptop atau komputer. Untuk nesin tik saja mereka mungkin hanya orang tertentu namun dengan kekayaan seorang tolstoy ia bisa beli mesin tik. Aku pikir bahwa ia lebih menyukai tangannya sendiri. Ia menulis di lembaran sebuah buku yang akan menjadi tempatnya menulis novel.
Ia tidak ragu untuk menulis di sana (mungkin) dengan cara ini ia merenungkan kembali apa yang ia tulis. Aku sebanrnua juga setuju cara ini dan dari bebrapa nkvelki ada yabg sudah ditulis tiga sampai empat kali. Aku tidak tahu apakah novelki bagus atau gidak semuanya nantinya akan bergantung dengan orang yang membacanya.
Tetapi memang novel adalah sebuah seni yang harus mendapatkan perhatian yang lebih. Kalau kita memulainya cepat seperti aeranhna Blieyzkrieg maka aku yakin pembacanuabjuga akan. Membacanya seperti blitzkrieg yang selalu membacanya dengan kecepatan. Saya juga tidka mau menulis hingga ratusan novel tetapi nantinya dijual dengan harga banting. Lebih baik novelnya puluhan tetapi menjadi best seller khan yang itu menjadi lebih mantap
Lihat saja Tolstoy karyanya uang tidak banyak tetapi ia mempunyai penggemar yang setia padanya.
Aku berminpibongin menjadi sepertinya. Perlu memangvsuayu keprofesionalan atau ketelitian.
Aki mencoba bawjwa dengan menilai ulang onibbajyak manfaatnya. Pertama ini justru akan memantapkan cerita kita. Mungkin yang tadinya kita menjadi ragu dengan alur cerita kita sekarang kita menjadi mantap dengan hal itu.s aya kadang sudah menjadi jenuh di tengah dengan cerita anak saya membuat cerita yang melenceng.
Kelemahannya adalah kafang kita menjadi malas juga. Apa sih yang membuat kita malas adalah karena kita merasa sudja mengerjakan yabgvtadi mengapa sih masih mengerjakan yang batu.
Aku tidak tahu apakah Tolstoy menulis ulang Dengan gambaran cerita yang ada di draft leratan aath yang di sebuah draft yang baru. Ini masih menjadi tanda tanya bagi saya.
Yang jelas saya akan mencari untuk format dalam cerita tersebut. Aku harus mencari format apakah saya harus terus menulis ataukah saya malah memperbaiki tambal sulam. Kalau aku pikir tanval sulam berbeda dengan menulis.
Jangan-jangan dengan adanya komputer kita masih masalah dengan cara menilai. Masalahnya adalah malas. Malas padahal salah satu penyakit yang harus kita hindari kalau kita mau maju.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s