Mengakhiri Cerita

Jangan sangka bagian yang susah hanya di tengah saja dimana kita harus mengembangkan seluruh cerita adanya konfik dengan segala tetek bengek dan keruweatan dalam cerita.MUngkin kaau semakin aneh dan semakin ruwet konfliknya akan semakin membuat cerita tersebutbaik sekali.
Setelah menulis beberapa kali tahulah bahwa cerita juga harus mempunyai akhir. Kalau tidka ada akhir maka itu disebut kehdupan nyata yang akan berakhir ketika manusia sudah meninggal. Tetapi kalau cerita harus ditentukan.
Ketidakkonsistenan sering terjadi ketika di tengah. Ketika kita sedang memaparkan konflik kita menjadi binggung. Misalnya apakah tokoh masih hidup atau mati. Kalau tokoh hidup ceritanya menjadi klise teapi kalau tokoh mati cerita menjadi tidak asyik. Semua itu tentu saja menjadi pilihan dari penulis tersebut.
Terus terang saja kadang ketika sudah kata mencapai lebih dari 40 ribu , saya menjadi malas untuk mengakhiri ceritanya Sepertinya masih banyak lagi perjalanan yang saya mesti lakukan tetapi dengan berat akhirnya saya menyelesaikan cerita tersebut.
Alhamdulillah dan saya tinggal mengeditnya saja.MUngkin saya kurang bersemangat hingga jadinya seperti ini.Kalau saya sanat bersemangat mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini.
KIta harus tau bahwa tidak semua orang berbakat untuk menulis. KIta harus menysukurinya dan terus bergerak untuk mencari cara agar kita terus dapat menulis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s