Pria Pengendali Hujan

AKu berjalan dengan cemas. Mendung di atas awam yang gelap gulita. Awan yang tadinya putih kini menjadi hitam. Ada pergerakan awan yang menghitam menuju wilayah kami menutupi.
Aku tahu akan hujan namun ujan belum turun. aku kahwatir ini adalah bencana seperti yang diberitahukan Rasululah karena akan datang aab kalau ada awan mendung.
Aku berdoa’tidak. lebih baik hujan aku kira daripada tidak hujan. PAsti ada awan hitam yang membawa penyakit kalau tidak hujan.
Indekos tempatku masih berjarak 100 m lagi. Jalan aspal yang tajam tersebut menjadi setia perjuanganku menuju kampus yang kami cintai. saya rasa saya tidak akan sempat dan aku mencoba untuk berlari namun percuma saja karena aku kira itu tidak akan membuat saya tertolong. Saya akan terkena hujan.
saya jalan santai dan saya merasa biar saja hujan khan nanti bisa mandi di kos ternyata tidak saya tidak terkena hujan. Nah saya kira saya bisa mengendalikan hujan.

Suatu hari aku sedang pergi . Aku rasakan aku bisa menahan hujan gak bawa payung. hari gelap orang sudah memeringatkanku tetapi aku keukeh kaena aku pikir aku bisa mengendalikan hujan.
alau aku bisa mengendalikan hujan maka aku jadi apa? Memangnya aku mau menjadi Penguasa alam? Itu hal yang aku hindari dan tidak ada dalam sedikitpun pikiran untuk menjadi sang Khalik.
Hujan turun saat saya di tengah jalan. Allahumma Shoyiban Thoyyiban. Ya Allah aku sudah sombong. Hujan ini mudah-mudahan menghapus kesombongan. Aku tersenyum dan menyadari bahwa Allahlah yang hanya bisa mengatur dunia ini.

Iklan