Menulis pun harus dibatasin

Saya mempunyai kegiatan banyak sekali sebagai seornag dosen dan kadang saya pun terbengkalai dalam berbagai hal yang banyak. Kadang saya menulis bisa lebih enam jam namun ketika suatu saat menulis 300 katapun tidak bisa. Ini biasanya akibat kejenuhan yang saya alami karena saya sudah kebanyakan menulis.

Saya pikir kita ahrus membatasi menulis saja terlebih kita mmepunyai pekerjaan yang lain. Kalau kita menganggur saja kita barus bisa menulis. Seorang pengangguranpun masih mmepunyai kewajiban yang lain seperti halnya kewajiban ibadah. Apakah mungkin seporang pengangguran sekalipun hanya  pekerjaaanya menulis. SAya yakin tidak ia juga harus membersihkan rumah bahkan ia harus mengobrol dengan orang lain meski omongannya mungkin hanya omong kosong saja.

Ibarata sebuah teko yang terisi bisa menuangkan air ke gelas. Teko tersebut harus penuh kembali dengan air. Kalau menulis diibaratkan pekerjaan kita dengan menuangkan air dalam teko maka kita harus mencari air atau sumber untuk memasukkan air dalam teko. Sumber tulisan bisa jadi sebuah literatur yang kita dapatkan baik dalam betuk buku ataupun dalam bentuk online atau dalam bentuk dunia nyata.

Banyak penulis yang mencari inspirasi dari orang lain. Cerita orang lain sangat menarik juga dan yang pasti bukan buat-buatan walau mereka bohong tapi ada nilai kebenaran dan kita dapat menyaring hal yang itu.

Peristiwa penjaga masjid yang memarahin anak scizofernia mungkin bisa dijadikan suatu bab dalam tulisan atau novel kita. Kalau kita membaca mungkin kta tidak pernah akan menjadikan hal itu sebagai topik kita. Tetapi kita bisa mendapatkan hal itu dari kehidupan kita sendiri. kembangkan hal itu dengan tulisan kita. KIta jangan pernah berhenti mencoba hingga mendapatkan format yang baik untuk tulisan kita.

Banyak hal lain yang kita bisa gunakan untuk menulis seperti kita berdagang. Ini yang belum pernah saya lakukan dengan serius tetapi saya mencoba untuk mempromosikan diri terlebih dahulu sehingga saya bisa berdagang minimalsaya membuat dagangan buah syurga seperti buah tin atau buah zaitun

Iklan

Mengedit ini penting kalau di awal

Jangan tunda untuk mengedit tulisanmu. Ini karena saya merasa pusing untuk mengedit banyak sekali typos ada ribuan item yang saya harus edit dalam novel saya. Hal ini karena saya yang maunya cepat-cepatan untuk menghasilkan target. Walau target memang harus dicapai namun juga melihat agar tidak seperti seorang yang hantam kromo dan tidak mau untuk melihat ke belakang.

Seperti yang saya sudah sebut bahw ajangan biarkan kita berbelok. Kita akan belok ke tempat yang jauh apabila kita selalu belok . Inilah pentingnya. Masih mending kalau cuma kesalahan ketik (typos) tapi kalau ide yang hilang maka itu akan repot lagi.

Jangankan menulis kalau seorang pengendara mobil juga kadang harus melihat ke belakang untuk membenarkan arah agar kita tidak menganggu hak orang lain yang mau jalan atau mau jalan ke arah yang lain.

Sama juga dengan mengedit kalau seperti saya yang tidak mempunyai kemampuan menulis seperti sistem sepuluh jari yang sesuai dengan orang yang ahli. Saya harus mengetik dengan dieja.

Saya mencoba dengan Google Keep menulis dengan suara saya yang melatih saya untuk berbicara sekalian namun karena Suara tidak mengenal titik dan tanda baca lainnya makanya jadi amburadul. Tulisan kadang berhenti pada suatu kalimat tetapi kadang juga nyampur. Saya tidak tahu mungkin kalau ada jeda maka ada juga tanda titik.

Sebenarnya keep juga bagus selain melatih kita bicara juga melatih kita untuk berbicara juga . Seorang penulis juga perlu untuk berbicara apalagi kalau terkenal maka harus mengadakan jumpa buku pers. Aku tahu mungkin saya yang selalu terus mengkhayal ala kulli hal saya juga harus melihat bahwa tulisan saya harus bagus.

Saya kadang ragu dengan tulisan apakah diary saya menjadi ketuaan dan tidak kekinian. Saya harus menembus pasar yang sesuai dengan anak muda sekarang ini dan berpikir seperti suatu yang baru.

Tetapi tidak mengapa saya rasa saya harus terus menulis saja. Ada keyakinan saya dengan sering rajin menulis justru akan membuat saya menjadi lebih baik lagi.

Balik Ke Blog Lagi?

Aku mempunyai niat untuk balik lagi ke balik ke blog karena aku rasakan bahwa ke blog itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Aku pikir aku akan mendapatkan pendapatan dari blog juga dan aku tidak merasa keberatan. Kalau saya harus mesti menambah jam kerja saya walaupun hanya sejam doang dan itu terasa tidak menjadi masalah karena saya juga membutuhkan suatu penyegaran dan tidak semata untuk hanya untuk bekerja pada membuat novel saja serasa terkadang membosankan.  Menurut saya membuat novel itu membosankan karena kita harus menulis kata-kata tersebut dan kita akan masuk pada suatu tempat yang mungkin kita belum pernah ke tempat itu tetapi kadang juga membuat kita menjadi stress karena kita juga tidak pernah mendapatkan sesuatu yang ada. Sebenarnya saya tidak boleh menulis stress. Menulis itu harus dibuat santai itu seperti saja halnya kita ingin berekreasi ke suatu tempat. Terkadang kita merasa terbebani oleh hal itu padahal tidak semestinya kita harus memilah memilih bahwa kita ingin menulis yg melepaskan beban kerja yang telah mengganggu kita tetapi kenyataannya menjadi berbeda kita merasa terbebani oleh menulis itu. Kita menjadi lebih stress karena kita harus mengumpulkan deadline seperti saja seorang wartawan yang harus menulis banyak partikel dan di harus memenuhi target tersebut tentu kita tidak mau seperti itu kita akan maunya santai dia tentu juga tidak santai karena kita juga harus memenuhi target yang telah kita tetapkan kalau tidak kita akan selalu berleha-leha dan tidak akan menyelesaikan barang 1 cerpenpun karena itu kita harus tetap santai tapi serius kita serius. Tetap santai dan kita harus tenang menghadapi apa-apa yang menjadi permasalahan kita.
Aku merasakan juga adalah kalau kita hanya menulis pada satu bidang saja aku ingat jadi dengan Seorang cendikiawan Anis Matta yang memberikan saran agar ketika kita lelah di satu bidang kita beralih ke bidang yang lain.  Aku yakin dengan seperti ini kita tidak akan bosan dan tidak akan stress yang penting dan kita akan mencapai cita-cita kita

Dengan Siapa Kita Berjalan?

Dalam Menulis sebuah cerita terutama Novel yang panjang ita harus juga menegtahui dengan siapa ita berjalan. Ini akan menjamin Nove kita slelau mengalir bagai aliran yang tidak mampat. Saya menemukan masalah ini ketika saya harus menyelesaikan Novel. Saya sendiri yang menulis menjadi jemu karena saya sama sekali tidak tahu mau kemana saja.

Alur sudah saya tuliskan bahwa seorang tokoh sehabis masa tugasnya pada panglima lain, ia harus kembali. Nah untuk menuliskan itu saja saya binggung. Ya, memang saya akui saya kurang untuk menuliskan settng, tokoh mana saja. Akhirnya tokoh baru muncul . Ini mirip sinetron “Tukang Bubur Naik Haji”

Justru itu membuat saya menjadi malas sekali menulis. Lha, kok saya menulis mengaco. Memang secara prinsipil alur sudah saya pegang menurut alur yang saya tulis tetapi sayangnya saya tidak menyebut tokoh dan setting. Misalnya saya harus menyebutkan untuk berpindah pada seorang panglima saya harus menyebutkan ia meminta izin pada panglima lama.

Kadang tempatnya di tempat atau kantor panglima atau bisa juga di tempat akademi milier atau di tempat lainnya. Inilah yang harus kita tentukan untuk mengusir rasa bosan. Kita tentu tidak mau untuk menulis yang membosankan apalagi pembaca kita pasti akan jauh lebih bosan.

Saya rasa saya harus menetapkan tokoh dari awal siaa saja yang menjadi tokoh tersebut dan nantinya saya akan membuat suatu coretan dan yang pening adalah siapa saja dialog tersebut. Saya masih malu untuk berdialog dengan tokoh non fiksi karena saya tidakmempuyai dokumen seperti Shalahuddin Al Ayubbi, Quthuz, Alp Arsalan apalagi sampai tokoh Nabi dan juga shahabat Nabi semoga saya hindari.

Saya menulis fiksi karenanya bagi saya saya menulis fiksi saja dengan tokoh rekaan. Namun cara menyambungkan dengan sejarah seperti apa. Apakah saya hanya menceritakan saja latar belakang . ini juga statis dan membosankan bagi saya. Atau ia mendapat kabar dari orang lain. Ini juga statis karena banyakan bicara. Tetapi pasti semuanya saya coba.

 

Baca Juga

Aku harus menggambar peta terlebih dahulu

Idea Storm

 

Aku harus menggambar peta terlebih dahulu

Aku sangat senang menggamabr vignet yang baru aku gemari. Aku kira itu sama dengan seperti dengan gambar mind mapnya milik Tony Buzan. Mungkin aku bisa meggamar cita-citaku di sebuah kertas vignet.Sederahan sekali membuatnya dnegan menggunakan pen yang berwarna hitam dengan tinta.Pertama bisa gunakan pensil terlebih dahulu sebagai sket dan kita bisa menggunakan pulpen atau spidol jika mau. aku juga mmeikirkan bagaimana kalua menggamar dengan photosop. aku kira itu uga tidak akan susah .

Kalau Tony Buzan menggambarkan mengenai apa yang kita harus jabarkan dalam satu topik namun kalau vignet lebih ke sisi estetika saja. Dimana gambar harus penuh di atas kertas. Kalau ada ruang kosong bisa diisi oleh gamabar dekoratif biasanya adalah
Au menggambar dengan benda matisaja karena dengan menggambar mahluk hidup aku nanati khawatir karena berdosa. AKu bisa menggambar bergabai benda mati seperti kapal terbang, kapal lautdan banyak hal yang lain yang aku bisa menggambarkan. ‘kalau terpaksa mengambar tanpa wajah saja biar aman .
Aku akan mengambar walaupun wadah untuk vignette memang tidak ada yang ada hanya kit bisa masukkan dalam blog saja.
Pernah khawatir bahwa vignet dipakai menjaid gambar tatoo. Kau pikir ini seperti man behind the gun saja. Kalau aku sih hanya mau nyeni saya atau mau berkaya dalam bidang seni. Saya tidak pernah menganjurkan orang untuk merajah atau mentato tubuhnya. Mereka yag merajah atau mengubah ciptaan akan menjadi dosa.
Aku pikir dengan menggamabr sebuah vignet atau poseter akan membuat saya menjadi lebih rajin untuk menulis.
Hanya saja beberapa poster atau vignet yang akan saya kerjakan mmebuat saya khawatir malah perhatian teralihkan menjadi menggambar vignet tetapi aku ira . AKu harus tetap fokus pada tujuan untuk menulis novel sebanyak mungkin yang akan mmebuatku mendapatkan penghasilan yang layak selain daripada menjadi dosen yang birokrasinya lebih ribet. Kalau menulis kita tidak pelru birokrasi hanya saja saya harus berusaha sekeras mungkin untuk menulis. Aku harus tetapkan bahwa setidaknya saya harus tiga jam untuk menulis.

Idea Storm

tornado-308896_640

Kita seinrg mendengar brainstorming suatu metode untuk memecahkan masalah dengan banyak mengeluarkan berbagai ide dan mengelola apa yang paling mungkin untuk kita cari solusinya dengan mempertimbangkan keadaaan. Seringkali solusi akan kita dapatkan setelah melakukan brainstorming tersebut.
Kalau kita seringkali mandek dengan ide dan banyak penulis terutama penulis muda yang merasa mandek ketika mereka tidak menemukan ide. Bagi yang tidakmenemukan ide karena merasa hal-hal yang ia temui sudha orang temukan.
Penemuan ide tersebut seringkali pada saat menulis. KIta mau mengarahkan menulis ke mana dan ini membuat kita seringkali ragu. Belum juga ada ide untuk menulis yang  lain. Mungkin kalau seorang yang pro pasti mengetahui untuk mentasi hal ini.Merek pastinya akan menulis yang menurut mereka seleaikan terlebih dahulu.
Kalau mereka tidak selesai maka mereka tidak terpengaruh dengan hal itu karena mereka harus menyeelsaikan terlebih dahulu. Terus terang saja semuanya menjadi menarik karena mungkin tujuan menulisku adalah menghibur. Yah, menulis tersebut bisa menghibur diri kita sendiri, Dengan kekasuaan yang ada di jari kita kita bisa menentukan nasib dari tokoh yangm kita kreasi dan mereka tidak protes dan selebihnya yang saya bhas menulis itu menghibur.
Idea strom ini harus kita hadapi dengan teanng dan saya memang menulis ide-ide yangsaya dapat dalam coetan dan saya juga tidak tahu mau dikemakan coretan tersebut. Suatu saat kalau coretan tersebut saya akan pakai jika saya merasa ehilangan ide. Ini bagus  mungkin untuk menampun idea yang terlau banyak.Dari kertas bekas ini kita kumpulkan dalam map atau kita lubangi dengan punch holder dan kita simpan dalam arisp. Ketika pekerjaan kita selesai maka kita bisa kerjakan ide-ide yang sudha tersimpan dengan rapi. Begitu selesai maka kertas tersebut bisa dirobek atau dibakar atau dibuang saja.

Tetapi permaslahannya saya tidak sempat. Kini saya banyak kerjaan untuk meneliti masalah keuangan dan statistik dan membuat laporanpun belum selesai. Belum juga kursus bahasa Arab yang saya tidak ikuti. WAaah saya belum bisa mengatur banyak waktu ini.

Photo by : Pixabay

Mengetik lewat smartphone

Aku pikir mengetik di smartphone merupakan salah satu solusi untuk mentgatasai kesibukan yang super sibuk. Batyangkan kita di transportasi ke kantor ajaminimal kita gunakan dua jam. Kalau kita diam saja apa yang kita kerjakan tetapi kalau menggunakan smartphone kita bisa mengetik dan bahkan menghasilkan satu cepren.
Tetapi smartphone memiliki kelemahana yakni kita mengetiknya bisa belepotan dan agak lama( masih mending sih bisa mengetik daripada cuma dalam imajinasi saja)
Kita tidaki bisa menulis dalam otak sama seperti orang yang sudah pro.Orang yang pro menyebutkan bahwa mengteik itu seperti halnya ngeprint yang filenya tersimpan di otak .
Wah kalau seperti itu saya juga tidak mau karena seringkali catatan tersebut justru menyetrum saya untuk nerkarya dan mendorong saya untuk menulis. sayatidak maumenghafal atau tidak mau repot untuk menghafal sedangkan saya menghafal yang wajib saja malas.
Tetapi memnag repotnya kalau menulis terlebih dahulu kita terpaku padaide tersebut yang kadang membuta kita berpikir inside the box bukan out the box. soalnya katanya zaman sekarang orang harus berpikir dari out the box. Membuat sesuatu yang lain dari yang lain.
Untuk itulah saya berpikir untuk kembali lagi di depan kompuetr yang sbeelumnya kerangka nya saya tulis atau oret-oretan di kertas bekas. Aku simpan sajanantinya oret-oretan yang berharap itu aku kerjakan.
Seperti beberapa hari yang lalu saya menemukan tulisan mengenai Erdogan. Aku harus menyelsaikan tulisna tersebut pikirku karena aku sudah capek membuat kerangkanya.
Tentu saja, aku akan konsisten untuk mneyelsaikan yang akan saya buat.

menambah konflik di novel

Kalau cerita lurus rasanya mungkin biasa saja. Unfortunately, semua cerita tidak ada yang lulus dan kita harus menelusuri jalan yang berbelok. Kadnag jalan itu harus kembali lagi ke tempat yang semula.
tentu banyak sekali varian-varian cerita yang kita alami.
Mungkin setiap orang mempunyai kesamaan ketika bekerja di tempat perusahaan terkenal dariuniversitas sama dan tahun wisaudanya yang sama tetapi pastinya jlnnya berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Ada yang lancar-lancar saja menempuh jalan ada juga yang terlambat untuk menempuh jalan pasti berbeda. Kalaupun sama-sama mengajukan skripsi dengan dosen yang sama dan ujian yang sama pasti berbeda juga. Bisa jadi perbedaan itu dari judulnya atau tempat penelitiannya.
Bisajadi dari latar keluar. Mungkin mereka mempunyai dua orang tua yang mash lengkap tetapi bisa saja mereka mempunyai orang tua yang berbeda profesi.
Sama sekali tidak ada jalan yang sama. Kalau di sebuah cerita memang kita bisa menggambarkan betapa sulitnya orang yang meraih kesuksesan memang bukan pekerjaan yang mudah untuk meraih sukses.Karenanya tidak ada orang yang sukses.
Tetapi pada akhirnya orang tersebut nantinya akan sukses setelah berlelah-lelah. Atau sukses tersebut sama sekali tidak pernah terjangkau.Artinya orang tersebut menderta hinggaakhir hayatnya. Walau ceritaseperti ini tidak disukai oleh para pembaca namun ada juga yang menulis seperti ini.
Nah kalau jalan ceritanya meniru dari cerita yang lain jelas saja cerita tersebut klise. Memang cerita adalah dunia yang klise karena seteah berakit rakit ke hulu berenag kemudian artinya susah lalu menjadi sukses kemudian . Tetapi dengan cerita yang mirip dengan cerita lain kita akan dituduh klise walau kita bukan seorang plagiat tetapi plagiat dalam masalah cetakan cuma kita tambahkan bumbu-bumbu saja di dalamnya.
Inilah yang membuat novel atau ceirta bagus seperti masakan yang bumbunya cukup dan bahan-bahannya cukup sehingga rasanya menjadi nikmat.Tetapi tentu saja tidak memasukkan bumbu yang banyak agar cerita gak keasinan sehingga si pembaca sama sekali tidak bisa menelan bacaan kita.

Menulis Novel Ala Diary

submarine-560945_640

Beberapa saat lalau saya berpikir untuk menjadikan diary sebagai bahan untuk tulisan novel. Saya sudah melihat beberapa novel dari diary ternayat sukses sekali seperti novelnya Andrea Hirata Laskar Pelangi. Tentu saja saya tidak akan meniru cara atau menulis ala Andrea HIrata sebaba saya inibukan orang yang sesukses Andrea Hirata.
Andrea Hirata meski dengan kketerbatasan ia sukse. NAmun saya yang dibilang golongan anak pegawa negeri. Uang sekolah da uang saku gak pusing namun saya pada saat ini belum mencapai raihan seperti halnya Andrea Hirata.
Tetapi bukan tidak mungkin saya akan lebih sukses dari Andrea Hirata. Kalau soal itu yah mungkin usaha dan takdir saya kalau menaid sebagai seorang penulis yang sukses.
Tetapi setiap orang pasti mempunyai cerita yang layak di ceritakan hanya saja orang tersebut tidak bisa mengolah cerita tersebut. Ibarata semua cerita adalaha bahan mentah yang bisa kita olah dengan bumbu yang enak dan cara memasakanya juga yang enak.
Perihal sederhana saja nantinya akan kita buat menjadi enak dengan pesan-pesan moral yang ada di dalamnya. Bukan pesan-pesan moral yang malah merusak anak bangsa maka jadi rusak isi novel tersebut.
PAda saat ini saya kana merencanakan dan saya sudah hafal isi dari maksud novel saya dan saya tidak menggunakan pengembangan kerangka seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya tetapi saya menggunakan pikiran alur yang jalan seperti sebuah diary. Akan saya tulis yang saya ingat terlebih dahulu. Saya mau mencoa 500 kata sehari saja nanatinya saya akan bisa mengembangkan kata-katanya lebih banyak lagi.
Mudah-mudahan ini saya bisa karena saya sudah mencobanya dan satu gagal sedangkan novel yang lain mengenai perang Galipoli masih di garap.Kuncinya kalau seperti ini seprti perang di dalam kapal selam. Eeeh sok tahu kayak sudah pernah masuk kapal selam saja apalagi berperang. Pasti kita tidak tahu mau kemana saja

sumber photo: situtunga

Saya ingin memasarkan cerpen saya

setelah setahun atau tiga bulan ini saya insentif menulis novel, saya berpikir perlu kiranyan untuk mmepromosikan diri sebagai penulis cerpen di media-media cetak.Kalau media onlina sih sudah sejak setahun alau di kompasiana. Saya menghasilkan beberapa cepren yang terus terang saja belum menghasilkan pembaca yang setia.
Di kompasiana di rubrik fiksiana saya juga sering membaca cerpen-cerpen orang lain yang bagus-bags kadang saya kira itu seatara dengan penulis cerpen di media cetak.
Tentu saja saya mau mmebuktikan untuk mendapat tempat di media cetak karena saya akan menjadi terkenal (eeeh bukan maksudnya gitu maksudnya mendapat penghasilan yang layak dari menulis). Saya kira dengan menghasilkan cerpen di media saya bisa menarik nama saya atau mengerek nama saya menjadi seorang peulis yang baik.
Tentu saja nantinya cerpen-cerpen saya akan menjadi modal saya untuk mengadu nasib di media buku. Mungkinkah penerbit buku akan tertarik pada cepren yang ditulis oleh cerpen yang mempunyai tempat di media cetak. Saya rasa ada benarnya saja. Tetapi kalau tulisna buku kita jelek dan tidak sama dengan cerpen kita yang di media tentu saja penerbit tidak akan menerima buku kita.
Kalau demikian kita harus mempunyai kulitas yang sama anatara cerpen yang kita tulis di media dengan cerpen yang kita tulis untuk penerbit. oh ya lebih tepatnya novel karena para penerbit pada saat ini jarang menerima kumpulan cerpen kecuali untuk cerpen anak-anak. Sekitar bulan lalau saya sudah mengirimkan naskah cerpen untuk anak-anak. Mudah-mudahan mendapat ati di anak-anak.
Memang sangat penting bagi saya untuk mengirimkan cerepen ke media.
Saya kira nanatinya saya akan memperkenalkan diri sebagai seorang penulis fiksi yang terkenal dan karenanya saya harus mempromosikan diri di media cetak. Saya harus membuta tekad misalnya smeinggu saya harus kirim cerpen atau dua mingu.Mungin ini akan membuat saya disilin. Karaena tersu terang saja banyak kerja saya yang terbengkalai karena bais nulis mau pindah yang ke lainnya yang membuat saya tidak fokus karenanya saya mau fokus dulu baru menyelesaikan penulisan yang lain.