Menulis kegigihan Al Kamil Mayyafariqin

Awali dengan optimis

Mungkin kemarin pekerjaan menumpuk juga dan yang penting saya telah menulis dua novel walau dalam kata yang tidak banyak. Tetapi itu adalah sebuah kemajuan karena saya stagnan seperti terantuk. Aku mulai memikirkan untuk mengedit novel dari kepahlawanan Al Kamil Mayfariqin {nama Mayfariqin untuk membedakan dari nama pamannya yang sama Sultan Al Kamil) yang juga keturunan dari Shalahuddin Al Ayubbi atau cicit dari Najmuddin Ayyub. Tepatnya Raja Mayfariqin itu adalah seorang cucu dari Malik Al Adil yang juga merupakan raja dari keluarga Ayyubiyah yang hebat,
Lain dari raja-raja lainnya yang cenderung menyerah pada Mongol dan menyatakan tunduk. Al Kamil menentang Mongol.
Ia adalah ‘Amir atau  Emir atau penguasa dari Mayyafariqin sebuah kota di Jazirah atau daerah yang terletak di antara Sungai Tigris dan Sungai Furat atau Eufrat. Sekarang kota ini dinamakan kota Silvan yang berada di wilayah Diyarbakir atau Turki.
Pada masa Al Kamil pasukan Mongol menyeebr teror ke seluruh dunia dan hampir sampai ke wilayahnya.Mongol yang tidak pernah kalah dalam perang menyatakan akan melawan. Ia bertahan selama waktu yang lama yakni dua tahun. Pengepungan ini adalah pengepungan yang sangat keras sekali. Kita bayangkan dalam waktu dua tahun apa yang bisa terjadi. Padi akan tumbuh sebanyak empat kali atau empat musim. Bahkan seekor sapi dapat melahirkan satu anak dan kambing dapat melahirkan anaknya sebanyak tiga kali dalam dua tahun tersebut.
Kegigihan Al Kamil tidak diikuti oleh sepupu-sepupunya yang berada di Aleppo, Damaskus, dan Hama. Seharusnya saudara-saudara mereka juga harus membantu.
Sementara Khalifah baghdad sudah hancur dan dibantai oleh pasukan Mongol dengan bantuan Syiah.
Mau meminta bantuan ke kesultanan Seljuk juga tidak bisa karena kesultanan ini terbelah dua akibat perebutan tahta antara kedua penerusnya. Yang hanya bisa diharapkan adalah seharusnya saudara mereka sendiri yang ragu. Mereka ragu karena mendapatkan ancaman dari Mongol yang akan menghabiskan mereka jika sampai mencoba membantu saudara mereka, Al Kamil.
Al Kamil berjuang selama 2 tahun setelah banyak pasukan mati dan tentu juga Mongol kewalahan dengan kegigihan Al Kamil. Akhirnya saking dendamnya Mongol pada Al Kamil mereka menyayat tubuh Al Kamil seiris demi seiris hingga ia menemui Syahidnya (InsyaAllah)

Iklan