Buah makin murah

Ternyata yang bilang naga seribu mungkin tidak bohong sebab saya melihat ada yang bermain menjajakan jualannya naga 10 ribu untuk 6 buah naga yang artinya memang 100 lebih atau 1333,33. Tentu ini lain dengan yang beberapa saat lalu.
Buah naga yang unik dengan kulit seperti lapisan-lapisan yang ada warna hijaunya mirip kulit hewan legenda naga tersebut.
Rasanya yang manis sekali karena mengandung gula yang banyak dengan warna merah darah keunguan. Kalau makan membuat warna kulit merah termasuk gigi kita yang putih serta lidah kita yang merah jambu tambah merah.
Buah ini buah eksotis kalau saya bilang karena unik sekali dan asalnya dari negeri Tiongkok. Buah ini masih keluarga kaktus yang mempunyai duri di bagian batangnya.
Pengembangan buah ini menjadi besar sekali karena untung yang akan diraih jika berhasil. Harga buah ini yang dulunya mahal menarik minta dari pemilik tanah untuk menanam pohon ini.
Sayangnya sekarang reputasi pohon ini sudah layu Karen harganya yang murah dan bahkan si petani merugi karena tanaman ini.
Mau dikata apa kalau kita tahu hukum dagang adalah mengikuti peraturan dan hukum sypply dan demand atau hukum permintaan dan penawaran.
Posisi sekarang adalah meski buah naga murah namun permintaannya tidak banyak sehingga menurun. Tentu banyak hal yang menyebabkan bisa jadi buah ini kurang enak
Kalau vuahbbaga sih rasa-rasanya tidak mungkin kita bilang tidak enak. Tetapi buah ini mungkin banyak yang "tidak ada rasanya" . Hal ini karena bibit dari tanaman tersebut tidak unggul sehingga buah yang dihasilkan adalah buah yang kurang manis .
Oleh karena aktivitas kita harus berhati-hati karena kalau investasi kita akan mengeluarkan modal yang banyak sekali.

Iklan

15 Menit Saja

Mungkin bagi orang 15 menit tidak ada dan remeh tetapi bagi seorang guruku yakni guru sejarah maka 15 menit adalah waktu yang berharga sekali dan karenanya ia memberitahu bahwa itu berharga. Sebenarnya setiap waktu bagi siapa saja berharga mau itu orang yang tidak mempunyai pekerjaan apalagi yang mempunyai pekerjaan karena setiap menitnya akan dihitung sangat mahal sekali.
Tetapi walau kita menyadari bahwa malas merusak kita tetap saja kita malas. Apalagi yang sudah kehilangan yang namanya motivasi. Maka apapun yang ia kerjakan tidaklah ia tidak akan mau. Orang mungkin bilang itu karena belum memakai passion. Itu sih kata orang saja yang sebenarnya jangan diikuti semua kata orang. Kalau ikuti kata orang maka semuanya kita amini sehingga kita dan justru malah kita membenarkan kata orang kita menjadi malas tanpa usaha kita untuk bekerja.
Malas adalah sifat manusia yang kadang merasa bete dengan pekerjaan mereka. Saya pun sampai bete karena beberapa permasalahan. Memang kita sulitnya belum bisa untuk mengatur waktu. Untuk itu kita juga harus bisa untuk menjaga diri kita tidak bete. Kita bisa mengkombinasikan pekerjaan kita.
Saya mendapatkan inspirasi dari pemilik instagram agar bekerja misalnya untuk 5 menit jika malas. Ini memangterbukti ketika saya sudah malas sekali dan hasilnya alhamdulilah.
Pokoknya untuk kebaikan kita harus paksakan sebab kalau tidak nanti kita tidak akan berbuat baik.

Asap rokok

Hari ini hujan sudah seharian dari pagi hingga sore hari bahkan sampai malam. Dingin sekali pas saya menuliskan jurnal ini (22/1). Oleh karena itu orang jarang yang keluar karena dingin ini banyak yang berteduh ke rumah.
Kalau menurut beberapa orang ada yang menghembuskan rokok untuk mengusir dingin yang saya rasa tidak pada tempatnya. Mungkin karena asap yang panas iniembuat orang menjadi hangat.
Aku menyaksikan asap yang begitu mengebul yang mirip dengan senjata dari Revolusi Amerika. Senjata tersebut mengeluarkan asap yang banyak sekali sehingga musuh susah melihat. Begitu juga dengan rokok yang saya lihat.
Asapnya saja mengerikan apalagi penyakit yang terkandung dalamnya. Penyakit tersebut akan membunuh bukan hanya perokok sendiri tetapi juga orang yang disampingnya.
Saya tidak berbicara mengenai rokok lagi karena bagi saya rokok seharusnya dilarang. Tetapi saya sempat kagum dengan asap seperti senjata masa lalu. Tetapi lama kelamaan para ilmuwan militer mampu menemukan mesiu tanpa asap yang banyak.
Tadi pagi atau siang tepatnya saya menyelesaikan surat di kelurahan rasanya saya senang sekali mengingat saya malas sekali untuk menyelesaikan urusan tersebut. Tentu saja urusan tersebut malah membuat saya untuk malas mengerjakan yang lain. Selesai dari itu saya begitu melesak mengerjakan pesanan dari teman. Memang pesanannya sulit sekali mengenai statistik tetapi biasanya saya bisa untuk melakukan hal itu sehingga saya bisa untuk mengerjakan itu.
Bahkan dulu saya sengaja untuk mencari metode yang paling sulit pada masa saya. Maksud saya agar saya bisa untuk menghadapi kesulitan-kesulitan yang besar. Saya sudah biasa untuk berbeda tetapi bukan asal beda

Hari ini saya semangat namun besok lain belum tentu
Saya harus terus untuk mengerjakan tugas-tugas. Kitabahrus berlaku seperti muslim ketika satu pekerjaan selesai maka kita selesaikan pekerjaan lain dan begitu seterusnya tidak ada yang membuat kita berhenti kecuali ada halangan saja. Terkadang saya sedih karena saya terus saja merasakan saya juga malas. Padahal saya sudah begitu bersemangat sebelumnya karena saya sudah merasa tidak mengerjakan banyak pekerjaan.
Hal yang lain adalah mekvuat saya malas ah nanti saja dibuat karena saya rasa maka akan bisa mengerjakan tersebut besok. Saya belum kekeh untuk mengigit pa yang menjadi cita-cita saya. Adapun program kerja saya adalah membuat modul dan penelitian
Saya tahu bahwa itu tidak banyak namun pada lahirnya saya akan mendapatkan uang yang lumayan dari pekerjaan tersebut.
Saya harus menyicil semua pekerjaan dengan sedikit yakni 15 menit saja untuk jurnal, sejamnbaca sejarah dan membuat ringkasan. Minimal satu juz baca Al Qur’an maka saya harap untuk mendapatkan cita-cita saya.

Apapun membuat kita bosan

Kalau main game mungkin kata orang menyenangkan. Tetapi kenyataanya tidak seperti itu karena kita juga bosanan. Sehari dua hari bahkan tiga hari bahkan sebulan kita bosanan.
Hal yang membuat bosan adalah statis mungkin. Kita akan mencoba game yang lain untuk mendapatkan game yang lain.
Hal ini juga menginspirasi kan pada menulis. Menulis juga bisa menjadi bosan pada saat kita sudah merasa menulis banyak tapi sepeti tidak akhirnya. Kita tidak tahu kapan hal itu berakhir.
Padahal kalau sebuah cerita harus dibatasi akhir. pasti cerita kita sudah mempunyai akhir tetapi kita tidak bisa menentukan akhirnya sampai mana.
Kita harus menentukan karena kadang say menggunakan angka misalnya seribu adalah satu bagian dari novel sehingga saya harus menulis lama sekali. Saya rasa ini setelah saya berhasil mengantisipasi stuck. Saya berhasil mengantisipasi stuck dengan cara mengerjakan pekerjaan yang lain saya hanya membatasi saja. Kalau saya stuck selama lima menit saja saya akan mencari pekerjaan lain. Bisa jadi pekerjaan itu menulis juga karena dengan demikian saya akan memenuhi target. Mungkin target saya seharusnya dirubah bukan hanya masalah angka saja atau jumlah kata sesuai dengan tuntutan dari sebuah novel melainkan juga sampai cerita tersebut utuh dan menceritakan seluruhnya jika demikian maka saya akan ke bagian yang lain.
Ini juga untuk menjaga ide. Terkadang ide itu mahal sekali kalau kita biarkan maka akan membuat kita sendiri akan menyelesaikan banyak pekerjaan dan saya tidak akan lagi mengeluh kalau saya tidak punya waktu.

Film mematikan kreativitas menulis?

Kalau penulis horror , Stephen King pernyataan bicara kalau film memang mematikan kreativitas dari seorang penulis. Mungkin benar saja kalau orang tersebut terus menonton TV dan film dan mencoba mencari ide dari sana tapi tidak mengerjakan penulisan. Ia tidak memulai dengan mencoret di kertas selembar hanya mencoba coret-coretan di dalam pikiran saja. Haha tentu hal ini sama saja dengan percuma sebab di tulisan yang lalu masih di blog ini saya juga bilang kalau tilisanniit yang ada di pikiran belum akan bisa dibeli orang karena masih dalam pikiran kita.
Kita belum menulis bab pertama dari ide buku kita bahkan satu kalimat kita yang mau kita buat. Hal itu membuat saya juga menjadi malas untuk menonton Karena bagi saya ceritanya itu-itu saja. Memang terkadang ada film yang menurut saya bagus tapi untuk sedikit dari film yang kebanyakan hasilnya kacangan.
Ada yang mendapat inspirasi dari film. Mungkin mereka membuat film plesetan yang justru menjadi laku. Bisa jadi membuat novel plesetan yang kadang lebih laku dari film aslinya.
Tentu saja hal seperti ini tidak asli sesuai dengan pikiran si penulis karena ia mampu mix. Penulis ini juga tidak original karenanya yah banyaklah penulis yang membuat film menjadi bosan karena sebenarnya semuanya bisa ditebak. Hanya sedikit saja yang tidak bisa ditebak karena sulit sekali untuk membuat alur tersebut.kita melihat beberapa film yang nama tokoh, tempat setting, dan lainnya beda akan tetapi ceritanya itu-itu saja.
Jadi menjalar kemana-mana. Tapi setidaknya kita bisa mendapatkan ide cerita. Yang tidak akalh penting adalah mencoba. Terkadang kalau kita mencoba kita merasa sama saja dan merasa kuno dengan yang ada di film tersebut. Akhirnya kita berhenti.
Ini salahnya kalau kita berhenti karena kalau kita berhenti apa saja akan menjadi lenyap karena kita sendiri yang telah membuat malas.
Terkadang kita juga membuat malas sama sehingga kita diam saja dan kita tidak menyelesaikan apapun.

Mengulang pelajaran

Kadang saya merasa paling efisien dengan tidak mengulang pelajaran lagi. Memang ada yang tidak perlu diulang tetapi terkadang ada yang harus diulang. Seperti halnya untuk menyetir mobil kita tidak perlu mengulang pelajarannya akan tetapi kita perlu praktek di lapangan.
Tetapi untuk suatu ilmu agama mungkin harus diulang-ulang. Kita jangan jenuh dengan ilmu yang seperti itu karena kita akan memperoleh manfaat. Seperti kemarin padahal saya sudah jenuh membaca di sosial media karena materinya itu-itu saja yang aku kira akan menghabiskan waktu. Kata seorang ustadz memang sosial media adalah yang bisa menghabiskan waktu karena kita terpaut atau seperti kena jangkar oleh sosial media. Sosial media memang membuat kita malah malas untuk mejgerjakan tugas kita.
Adalah kisah seorang buruh yang masih berpuasa ketika ia bekerja sebagai pekerja bangunanm. Bukan puasa wajib tetapi untuk puasa Senin dan Kamis. Ini tentu memerlukan perjuangan yang sangat besar sekali. Hanya untuk menjalankan yang Sunnah saja ia mau bayangkan pekerja bangunan yang puasa wajib saja tidak dipedulikan.
Kita mungkin merasa diri kita paling Sholeh padahal masih banyak yang lebih Sholeh. Kalaupun ibadah kita banyak namun kita tidak diniatkan dengan yang ikhlas maka pahalanya tidak ada sama sekali. Tetapi bagi yang sedikit sekali bisa jadi ia mempunyai pahala yang besar sekali.
Sekali lagi kita memang perlu untuk mengulang-ulang pelajaran. Inilah buktinya kita membaca Al Qur’an secara berulang-ulang karena memang kita butuh nasehat untuk itu. Jangan kita sombong dengan yang ada. Kita tidak akan pernah tahu nasib kita.
Manusia memang lupa dengan diri dan kalau tidak diingatkan maka akan lupa terus sampai lupa diri.
Kalau ada yang lebih baik dari kita bukankah kita harus menyontohnya? Jangan yang buruk kita contoh saja.

Semangat pada kedua

Saya membaca buku Ustadz Felix Siauw mengenai kebiasaan atau habit. Kita baru bisa habit atau kebiasaan kita setelah kita melakukan setidaknya 6 bulan seringkali kita semangat di awal tetapi setelah ldua tiga hati kita tidak bersemangat hal ini karena kebiasaan kita yang belum terbentuk. Kebiasaan kita hanya malas saja.
Ya kebiasaan kita terbentuk setelah kita semua akan bekerja keras. Kita sendiri membuat suatu kebiasaan tersebut dengan bekerja.
Seperti halnya menulis juga. Kita akan bisa menyelesaikan tulisan jika kita sudah menuliskan akhirnya. Ketika akhiran cerita kalau ada di kepala maka itu belum terjadi akhir dari cerita. Yang ada hanya khayalan kita yang melambung hingga ke atas sana tanpa ada hasil sama sekali.
Pernah terlintas bagiku kalau semua bisa menyelesaikan cerita betapa mudahnya semuanya. Orang bisa mendapatkan uang dengan mudah dari ide-ide yang ia miliki. Ia tidak bekerja namun hanya memberikan ide. Tentu ini tidak bisa seperti ini. Hal ini juga terjadi tapi jarang sekali.
Kita sebagai orang biasa harus bekerja keras dan kita tentukan sendiri cara kita untuk sukses.
Saya seperti yang saya lakukan sebelumnya. Kalau Kemarin saya begitu bersemangat namun kini tidak lagi. Saya rasa ini belum habit saya. Saya juga belum meyakini passion yang saya jalankan sehingga saya menjadi pengagum untuk itu. Maunya saya menggambarkan peta untuk mendapatkan jalan mengerjakan begitu banyak pekerjaan. Memang tanpa adanya peta ini sulit sekali. Bisa sampai? Ya, bisa sampai tetapi terkadang ada yang kurang. Ini karena kita tidak mencatat semuanya.
Saya membagi kegiatan anatra kegiatan yang wajib, sekunder dan iseng-iseng. Saya tidak tahu mana yang akan berhasil tetapi saya yakin akan ada hasil. Bukankah kerja saya masa lampau juga terbalaskan dengan penghasilan saat ini. Tidak mungkin kerja kita tidak terbayarkan . Pada saat ini mungkin saya belum merasakan manfaat dari hal ini akan tetapi kita akan mendapatkan suatu saat. Selama kita tidak berhenti bekerja.
Taktik lainya adalah berhenti pada saat stuck karena hal justru menjadikan saya menjadi sulit juga berkembang.